MENDALAMI FILSAFAT KYOTO SCHOOL (MAZHAB KYOTO)
![]() |
| Foto Ilustrasi: Dari Koleksi Pribadi |
Oleh: Dr. Fransiskus Borgias, M.A.
Dosen dan Peneliti Senior Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
Pengantar Singkat: Pengenalan akan KYOTO SCHOOL
Pada awal bulan September 2021 yang silam, tatkala kuliah-kuliah masih dilaksanakan secara online, saya mendapat tugas untuk mengajarkan mata kuliah yang diberi nama Teori-teori Hermeneutika Kebudayaan pada program Pasca-Sarjana Filsafat Budaya, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Mahasiswanya, hanya satu orang; luar biasa. Nama mahasiswa tersebut ialah: Jessica Priscila Nangoi. Ia baru saja menamatkan studinya pada program Sastra Jepang, di Universitas Kristen Maranatha Bandung.
Saat berkenalan dalam platform Google Meet, akhirnya saya tahu bahwa Jessica ini, demikian nama panggilannya, mempunyai segudang aktifitas. Ada yang menjadi sebagai pengamat atau kritikus film, ada yang aktif di teater kampus (kalau tidak salah demikian, atau mungkin sebuah komunitas khusus). Yang jelas, secara eksplisit dia mengatakan dia menaruh minat yang sangat besar akan studi kejepangan. Bahkan sudah bisa berbahasa Jepang. Setelah mendengar perkenalan itu, saya pun langsung teringat akan salah satu hal yang saya minati juga dengan Jepang, walaupun saya tidak pernah belajar secara khusus tentang Jepang.
Tasoku Sato: I Remember Flores
Sepanjang pengetahuan saya selama ini, paling tidak ada tiga atau empat hal yang membuat saya selalu merasa tertarik dengan Jepang. Walaupun hingga sekarang ini saya belum pernah pergi ke Jepang, tetapi rasa tertarik saya akan Jepang itu adalah sebuah realitas yang tidak mudah dijelaskan. Pokoknya, ada sebuah rasa tertarik begitu saja yang muncul dalam diri saya, dan tidak mudah untuk dijelaskan. Ya sudah. Biarkan saja hal itu demikian adanya. Inilah keempat hal itu yang membuat saya ingat akan Jepang yang juga pernah menjajah Indonesia.
Pertama, karena pada waktu kecil dulu, saya pernah menunggu datangnya majalah bulanan Dian, di NTT, yang memuat terjemahan sebuah karya novel, hasil karya seorang yang Bernama Tasoku Sato. Judulnya, menarik, Aku Terkenang Flores (I Remember Flores). Karya novel itu dimuat secara bersambung dalam majalah bulanan Dian pada waktu itu (waktu saya kecil, Dian itu masih bulanan, kemudian menjadi Mingguan. Kalau tidak salah ingat, pernah juga menjadi Harian).
Karya itu diterjemahkan oleh seorang yang Bernama Bapak Thom Wignyata (orang Bali, kiranya mantan Frater SVD, Ledalero). Saya sangat suka dengan cerita itu dan menantikannya. Begitu ia datang, saya akan melahapnya sampai habis, bahkan bisa diulang beberapa kali. Tasoku Sato sendiri adalah seorang Angkatan Laut Jepang, dengan pangkat yang cukup tinggi, dan karena itu ditempatkan di Ende, Flores sebagai pemimpin armada Laut Kekaisaran Jepang, di sana. Sato menuliskan percikan ingatannya akan Flores dalam buku itu. Tatkala cerita dalam bulanan Dian itu diterbitkan menjadi buku jauh di kemudian hari, saya pun tidak lupa membeli dan membacanya Kembali dari ujung ke ujung tanpa henti.
Takeo Doi: The Anatomy of the Self
Kedua, saya juga teringat akan sebuah buku yang saya temukan di Perpustakaan STF Driyarkara Jakarta. Pada saat itu, kalau tidak salah ingat kami ada kuliah Filsafat Timur yang diasuh oleh Pater M. Sastrapratedja SJ. Dan kami ditugaskan untuk membaca buku-buku yang ditulis oleh para penulis Timur. Secara kebetulan saya menemukan sebuah buku mungil. Judulnya, The Anatomy of the Self. Buku itu ditulis oleh seorang ahli filsafat dan psikologi. Namanya Prof., Takeo Doi.
Saya sangat tertarik dengan buku ini, karena dengan sangat bagus mencoba mendalami filsafat barat dan psikoanalisa Sigmund Freud dan muridnya Carl Gustav Jung, dan kemudian dipakai atau diterapkan untuk menganalisis kebudayaan dan psikologi bangsa Jepang sendiri. Dalam dan melalui buku Prof. Doi inilah saya akhirnya bisa mengenal beberapa konsep pemikiran filsafat psikologis Jepang yang terkandung dalam analisis tentang dua kata kunci, Omote dan Ura. Semoga pada kesempatan lain, saya sempat membahas hal ini secara lebih mendalam dan rinci lagi.
Ketika membaca buku itu saya merasa seperti “sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui” atau “sambil menyelam, minum air.” Karena dengan membaca buku itu, saya mendapat dua keahlian sekaligus, yaitu pemahaman tentang filsafat dan psikoanalisa Freud (dari perspektif seorang ahli dari dunia Timur) dan sekaligus juga pengetahuan tentang kebudayaan dan psikologi Jepang itu sendiri. Sungguh sebuah pengalaman yang sangat luar biasa. Benar-benar mengagumkan.
Robert Schreiter dan Kyoto School of Philosophy
Ketiga, saya pernah merasa sangat tertarik dengan Kyoto School of Philosophy, sebuah mazhab pemikiran filosofis di Universitas Kyoto. Pertama kali saya membaca informasi tentang Mazhab ini dari sebuah buku teologi. Mungkin terasa aneh. Tetapi begitulah faktanya. Pada tahun 1997, teolog Amerika Serikat, dari CTU di Chicago, Pater Robert J. Schreiter, C.PP.S., menerbitkan sebuah buku dengan judul yang sangat menarik, The New Catholicity. Judul kecilnya, sedikit menjelaskan tentang isi buku itu secara keseluruhan: Theology between the Global and the Local.
Di dalam buku inilah saya mendapat informasi tentang Kyoto School dengan tokoh awalnya Keiji Nishitani. Saya mendalami buku itu setelah bertemu dengan Pater Robert sendiri dalam beberapa kesempatan di Nijmegen, Belanda, antara tahun tahun 2000 sampai 2002. Pater Robert sendiri adalah seorang teolog tamatan dari Nijmegen, anak didik dari teolog besar Nijmegen, Pater Edward Schillebeeckx, OP.
Setelah mendapat informasi secukupnya dari situ, akhirnya saya mulai mencari-cari buku, mula-mula di fakultas filsafat di Nijmegen sana, buku-buku tentang Kyoto School itu. Tetapi buku yang paling kuat menancapkan rasa tertarik saya akan mazhab Kyoto ini adalah buku yang ditulis oleh seorang pengamat dari Barat yang Bernama Robert E. Carter. Buku itu terbit pada tahun 2013. Saya mendapatkannya dalam bentuk PDF pada tahun 2015 atau 2016. Judulnya, The Kyoto School, An Introduction. Saya juga tidak akan membahas lebih jauh lagi tentang buku itu sekarang ini. Semoga saya bisa lakukan hal itu pada kesempatan yang lain.
Selalu Hidup Dalam Dua Huruf J
Keempat, oleh karena saya belajar teologi, saya juga merasa sangat tertarik dengan cara orang-orang Kristiani Jepang mencoba menjelaskan dan menghayati iman mereka akan Yesus Kristus di dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai orang Jepang. Sudah ada beberapa teolog Jepang yang bukunya saya baca, tetapi saya tidak persis ingat lagi nama-nama mereka.
Tetapi saya masih ingat dengan sangat baik bagaimana salah satu teolog Jepang (juga sudah lupa namanya) menjelaskan fenomena dividuality (bukan individuality) di dalam menghayati iman Kristen sebagai orang Jepang. Dia mengungkapkannya dengan sangat menarik: Every Japanese Christians, always need two letter Js in their whole life. The first letter J is Japan(ese). The second letter J is Jesus (Christ). Dan itu mungkin saja bisa terjadi karena paham dividuality itu, bahwa diri pribadi kita bisa saja menerima dan menampung banyak hal penting dan tidak usah harus bertentangan ataupun apalagi dengan sengaja dipertentangkan, diperbenturkan satu sama lain. Ada cara-cara intuitif di dalam hati kita untuk “mendamaikan”, mengharmoniskan mereka, lalu hasilnya pasti bakan menyuburkan hidup dan mengembangkan wawasan orang yang bersangkutan.
Masih terkait dengan iman Kristen ini saya juga pernah membaca novel Jepang yang berjudul The Silence (diterjemahkan Hening dan diterbitkan oleh Gramedia), hasil karya seorang Katolik yang Bernama Shusaku Endo. Novel ini sangat bagus, dan sudah dibuat juga dalam bentuk film dengan judul yang sama. Buku ini berkisah tentang kemartiran orang-orang Katolik di Jepang pada abad ketujuhbelas dan delapanbelas. Dan masih banyak hal lagi. Tentang hal ini saya juga sudah membaca banyak informasi singkatnya dalam beberapa buku Sejarah Gereja Katolik Asia Timur (termasuk Jepang di dalamnya).
Atensi dan Apresiasi dari Jessica
Oleh karena itu, ketika pada awal bulan September 2021, saat kami mulai melakukan kuliah untuk pertama kalinya, Jessica memberitahukan kepada saya, bahwa dirinya tamat S1 dari Sastra Jepang dan memiliki minat yang sangat serius akan studi Kejepangan, maka saya pun langsung memutuskan bahwa dalam kuliah teori-teori hermeneutika Kebudayaan itu, saya akan membahas cukup banyak tentang para pemikir dari mazhab Kyoto tersebut. Maka buku dari Robert E. Carter yang sudah saya sebutkan di atas tadi, langsung saya bagikan kepada Jessica untuk mulai dibaca. Saya merasa tidak perlu menjelaskan secara sangat detail tentang buku itu sekarang dan di sini. Semoga hal itu bisa saya lakukan pada kesempatan lain. Saya mau mengisi baris-baris terakhir dari tulisan ini dengan sebuah catatan.
Kira-kira seminggu sebelum acara Wisuda, Jessica datang ke Kampus FF dan menemui saya pas sesudah saya selesai kuliah. Dia memberitahukan bahwa dia datang mengambil Toga untuk persiapan wisuda nanti. Maka sekali lagi saya ucapkan selamat dan profisiat atas seluruh proses studinya selama ini. Dan tanpa saya duga sama sekali, Jessica juga mengucapkan selamat kepada saya. Semula saya berpikir bahwa itu wajar saja, dalam relasi dosen dengan mahasiswa. Tetapi ada satu hal yang membuat saya berpikir serius: dia mengatakan bahwa saya berterima kasih karena bapak sudah memperkenalkan kepada saya Mazhab Kyoto, yang telah mengarahkan seluruh perhatian saya focus pada pemikiran filosofis Jepang, dan juga ikut membentuk seluruh arah dasar tesisnya.
Walaupun saya tidak membibing tesisnya, dan juga tidak ikut membahas ataupun menguji tesisnya, toh saya merasa sangat senang dan bangga dengan ucapan itu keluar dari mulut Jessica. Tidak hanya berhenti di situ saja. Pada hari Wisuda, karena diminta beberapa Mahasiswa agar sempat berfoto Bersama saya lengkap dengan jubah dan toga saya sebagai anggota senat universitas, saya pun keluar dari ruangan dan mencari para mahasiswa FF baik yang sarjana maupun yang pasca-sarjana. Puji Tuhan, Joko yang lebih dulu melihat saya dan memanggil saya untuk berfoto Bersama.
Salah satu fotonya ialah foto berdua dengan Jessica (tentu setelah ada banyak foto Bersama-sama dengan yang lain). Yang terpenting bagi saya bukan foto berdua dengan Jessica. Yang terpenting ialah foto itu tadi, di malam hari dan besoknya nangkring di story Facebook Jessica dengan sebuah caption yang membuat saya merasa sangat senang dan juga berbangga: The one who led me to Kyoto School, Dr. Fransiskus Borgias! Terima kasih banyak Jesscia atas pengakuan dan apresiasi itu. Bagi saya itu sebuah kehormatan besar, karena sebagai dosen saya sudah melaksanakan tugas dasar saya, educare. Salah satu analisis etimologis untuk kata kerja educare ini ialah ex-ducere, yang berarti mengantar keluar, atau mengarahkan. Walaupun sederhana, saya merasa sudah mengarahkan Jessica ke arah tertentu sehingga ia merasa seperti menemukan padang rumput yang hijau dan air yang segar dan tenang. Sekali lagi, selamat yah Jessica.
Sekadar Catatan Penutup
Walaupun saya terlibat cukup banyak mengajar di program Magister Ilmu Filsafat Budaya, tetapi saya tidak ikut membimbing tesis mahasiswa dan mengujinya. Sementara di Magister ilmu Filsafat keilahian, saya hanya mengajar setengah semester saja, tetapi saya membimbing biasanya tiga sampai empat mahasiswa dan tentu saja mengujinya ataupun ikut menjadi pembahas dan penguji bagi tesis-tesis mahasiswa yang lain. Oleh karena itu, apresiasi yang keluar dari hati Jessica bagi saya menjadi sebuah hiburan yang sangat berarti.
Selamat ya Jessica atas sukses dan pencapaian studimu di FF. Saya sangat yakin,
dengan tingkat kemampuanmu dan daya eksplorasimu yang luar biasa yang sudah kamu
perlihatkan selama ini, pasti akan sangat membantu dalam pengembangan karirmu
di masa-masa yang akan datang, di Universitas Kristen Maranatha ataupun di
tempat lainnya. FF pasti tetap berharap orang-orang lain sesudah Jessica yang
terilhami oleh Jessica untuk belajar Filsafat di Fakultas Filsafat UNPAR.
Selamat datang, jika ada. Hehehehehe…. Ngarep.com.
![]() |
| Foto Ilustrasi: Dari Koleksi Pribadi |


Komentar
Posting Komentar