SEKADAR MEMINTA SEBUAH "TANDA"
![]() |
| foto: koleksi pribadi Korsel 2019 |
Sebuah Catatan dan Pengamatan Personal
Oleh: Fransiskus Borgias.
Pengantar Singkat
Beberapa hari yang lalu, saya menonton debat sesi pertama dari para Capres yang akan maju dalam pilpres yang akan datang, 14 Februari 2024. Tentu saja ada banyak aspek yang bisa dikomentari dari peristiwa debat itu. Tetapi di sini saya tidak akan mencatat semua pengamatan saya akan seluruh dinamika debat itu. Kiranya hal itu tidak perlu juga. Di sini saya hanya ingin mencatat sebuah hal kecil yaitu pertanyaan dari pak Ganjar, capres nomor urut 03. Pada saat itu beliau mengajukan sebuah pertanyaan kritis historis kepada capres nomor urut kedua, yaitu bapak Prabowo Subianto. Dan pertanyaan itu erat terkait dengan masa lalu Pak Prabowo Subianto pada tahun 1998.
Sementara itu sudah ada sebuah video yang beredar luas di jagat raya medsos Indonesia yang melukiskan kesaksian seorang jenderal tentang "penyelidikan" terhadap PS oleh beberapa Letjen (yang memang mendapat tugas khusus untuk melakukan hal itu). Tokoh yang berbicara dalam video itu menegaskan bahwa beliau (maksudnya, PS) terlibat dalam aksi penculikan itu. Dari para korban itu, ada yang sudah jelas mati, tetapi ada yang sama sekali tidak diketahui nasibnya. Tetapi umumnya orang berkeyakinan dan berpandangan bahwa kelompok yang terakhir ini sebenarnya sudah mati. Atau jika tidak mati, maka mereka dapat dikategorikan sebagai kelompok orang-orang yang hilang. Baik penculikan, pembunuhan, maupun penghilangan semuanya adalah Tindakan criminal, seorang penjahat. Ya, itu adalah penjahat. Itu adalah kriminal.
Sekadar Meminta Sebuah Tanda
Ketika sedang menonton acara itu, khususnya bagian di mana Bapak Ganjar diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada Bapak Prabowo, saya langsung teringat akan sebuah buku yang ditulis oleh Pater Robert J. Schreiter. Beliau adalah seorang teolog besar dari CTU (Catholic Theological Union) Chicago, tamatan dari Katholieke Universiteit Nijmegen (almamater saya di Belanda sana). Ketika pada tahun 2000 sampai dengan 2002 saya mendapat beasiswa untuk belajar teologi di Katholieke Universiteit Nijmegen, Netherland, saya, puji Tuhan, bertemu dengan beliau, bahkan beberapa kali kami tinggal bersama dalam satu kolese (Dormitorry) Internasional tempat saya tinggal juga bersama beberapa kawan mahasiswa lain dari pelbagai belahan dunia.
Pada jangka waktu tahun 90an, Pater Robert (demikian panggilan akrabnya) menerbitkan dua buku yang relevan dengan pokok pembicaraan saya di sini. Pada tahun 1992, ia menerbitkan buku yang berjudul Reconciliation. Mission and Ministry in Changing Social Order. Enam tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1998, artinya dua tahun sebelum saya mendapat beasiswa untuk studi di Nijmegen, Pater Robert menerbitkan sebuah buku lain masih dengan tema yang sama, rekonsiliasi. Judulnya The Ministry of Reconciliation. Spirituality and Strategies. Judul buku ini, Ministry of Reconciliation, serta-merta mengingatkan saya akan kalimat atau frasa yang sama yang pernah dipakai Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus. Rasanya kedua buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Nusa Indah.
Buku kedua inilah yang kiranya paling relevan untuk saya bahas lebih lanjut di sini. Buku kedua itu banyak menyinggung tentang teks-teks Kitab Suci yang relevan dengan Upaya Pembangunan spiritualitas pendamaian yang ia pakai sebagai bahan refleksi dan inspirasi bagi karya-karya pelayanan di pelbagai tempat di mana terjadi konflik dan diupayakan pendamaian, baik itu di kawasan Balkan, maupun di Amerika Latin, dan juga di Afrika Selatan dan di beberapa kawasan lain di Afrika yang dilanda dan ditandai konflik yang berkepanjangan (seperti Rwanda).
Hanya Membutuhkan Sebuah Tonggak Batu
Dalam buku itu Pater Robert menyinggung tentang perjuangan kelompok para ibu (yang kehilangan anak-anak ataupun suami mereka yang tercinta karena diculik dan dibunuh atau dihilangkan secara paksa oleh junta militer) di Ibu kota Argentina, Rio de Janeiro yang dengan tekun berkumpul sekali seminggu, kira-kira sama seperti kelompok para ibu yang dengan tekun berkumpul setiap hari Kamis di depan istana di Jakarta yang menuntut agar pemerintah (dalam hal ini presiden) mau mengungkapkan di mana anak-anak mereka yang dihilangkan dengan paksa dan dengan kekerasan pada tahun 1998. Itu sebabnya gerakan itu hingga saat ini dikenal dengan sebutan Aksi Kamisan: Hanya berdiri sambil berpayung ria di depan Istana Negara, pasti dengan maksud untuk menarik perhatian dan memohon tanggapan.
Konon para ibu di Rio de Janeiro juga melakukan Gerakan yang sama. Mereka meminta agar presiden Argentina berkenan memberitahukan di mana anak-anak mereka telah hilang atau dikuburkan. Kata Pater Robert, bahwa tentu saja para penguasa tidak bisa lagi menunjukkan di mana mereka berada atau di mana kuburnya. Sebab ada yang ditenggelamkan ke laut dengan cara dijatuhkan dari atas helicopter setelah diberi pemberat berupa batu atau besi yang sangat berat sehingga pasti mereka tenggelam di dasar laut atau menjadi santapan Binatang-binatang buas di dalam laut. Oleh karena itu, komisi Kebenaran dan Keadilan dengan jujur dan berani mengatakan hal itu kepada ibu-ibu dari orang-orang hilang itu.
Dan konon, demikian cerita Pater Schreiter, para ibu itu akhirnya bisa juga mengerti akan kondisi itu, tetapi mereka tetap menuntut agar pemerintah memberi sebuah tanda berupa batu atau monument, agar mereka bisa datang mengenang anak-anak mereka yang hilang. Dengan cara itu maka persoalan selesai. Jadi, yang diminta atau dituntut bukan lagi terutama untuk mengembalikan raga para korban apalagi mengembalikan jiwanya, melainkan hanya sekadar sebuah tanda, sebuah monument di atas mana mereka bisa datang menumpahkan gelombang kenangan, rindu, cinta, dan ingatan mereka akan anak-anak atau para kekasih mereka yang sudah hilang. Dengan cara itu, mereka mempunyai sebuah objek bendawi yang bisa mereka pegang, mereka raba dalam cinta, dalam kenangan, dalam gelombang rindu.
Manusia Butuh Sebuah "Objek" Kenangan
Kiranya, yang dituntut oleh para ibu Kamisan di depan istana itu rasanya sih hanya yang seperti itu. Kiranya hanya hal seperti itu saja juga yang ditanyakan atau diminta oleh Bapak Ganjar Pranowo kemarin kepada Bapa Prabowo Subiyanto dalam debat pertama para capres kemarin. Yang saya herannya ialah bahwa bahkan tuntutan yang sangat minimalis itu hingga saat ini masih belum juga dipenuhi oleh pemerintah, apalagi oleh orang yang dituduh dan sudah terbukti sebagai pelaku utamanya. Apakah hal itu sangat sulit? Apakah hal itu memalukan?
Seharusnya sih tidak usah memalukan. Harusnya dengan jiwa besar kemanusiaan, hal itu bisa dilakukan dengan sangat rendah hati tanpa harus kehilangan muka. Sebab yang orang butuhkan tidak lebih dari hanya sebuah tanda, sebuah monument yang bisa didatangi dalam kenangan, dalam haru, dalam cinta, dalam memoria, dalam nostalgia. Sebab betapa beratnya menanggung rasa kehilangan orang-orang tercinta tanpa tahu di mana mereka hilang.
Di sini yang terberat bukan lagi fakta bahwa mereka sudah mati, sudah hilang atau mereka sudah dihilangkan. Itu sudah terjadi. Itu sudah lewat. Memang masih ada lukanya, tetapi luka itu lambat laun akan sembuh juga oleh obat perjalanan waktu, walau tidak bisa sembuh sama sekali. Pasti masih ada traum, sebuah luka batin, luka di dalam kesadaran. Yang justru terberat adalah menanggung terror ruang kosong, ruang tiadanya informasi tentang di mana keberadaan mereka setelah mati. Terror ruang kosong, ruang hampa tanpa data, tanda kata, itu adalah sebuah penderitaan yang sangat mendera rasa sebagai manusia.
Sebagai manusia, bagaimana pun kita selalu tetap membutuhkan tanda, membutuhkan kenangan dari dan akan orang-orang kita yang tercinta yang sudah pergi dan berlalu. Tanda itu menjadi bukti kehadiran yang bisu. Tidak apa-apa. Tetapi tanda yang bisu itu bisa menjadi “hidup” di dalam imajinasi cinta orang-orang yang mengenang, mencinta. Tanda itu, karena sudah hidup, bisa diajak berdialog, berkomunikasi. Oleh karena itu, ketiadaan tanda berarti suatu keadaan buntu, sebuah deadlock yang sangat menyesakkan dada dan pikiran.
Monumen Kolam Pualam Kenangan Duka-Cinta di New York
Nah dalam konteks itulah, saya teringat lagi akan sebuah kunjungan saya ke monument di titik nol di bekas reruntuhan Menara kembar di New York pada awal Desember 2014. Di tanah bekas berdirinya Gedung pencakar langit Menara kembar WTC itu, sekarang kita bisa melihat sebuah taman dan kolam memorial. Kolam itu airnya hening sekali. Kolam itu dikelilingi dinding kolam yang terbuat dari batu pualam hitam yang sangat kokoh. Angin musim dingin bertiup semilir di sana, menerpa permukaan air kolam yang terus bergerak seperti memberi reaksi terhadap sapaan terpaan angin itu.
Di sekeliling permukaan tembok dinding kolam puala hitam itu tertulis ribuan nama. Dan di setiap nama itu ada lubang-lubang seukuran paku. Semula saya tidak mengerti mengapa ada lubang seperti itu. Tetapi setelah pergi ke salah satu sisi yang banyak pengunjungnya, yang sebagian besar berwajah Latino, dan karena itu saya menduga mereka adalah orang-orang Katolik, barulah saya pahami untuk apa lubang-lubang paku itu. Itu adalah tempat para peziarah, yaitu anggota keluarga, kekasih, suami, isteri, anak, cucu, adik, kakak datang menancapkan sebuah kenangan, bunga, rosario, barang kesayangan orang-orang yang namanya ditulis di dekat lubang itu. Tentu fisik orang itu sudah tiada lagi. Juga tidak bisa Kembali.
Tetapi para peziarah itu saya lihat khusyuk tenggelam dan hanyut dalam doa, dalam tangis sedih memegang erat benda yang mereka tancapkan di sana. Bahkan ada peziarah yang tampak seperti sedang berdialog dengan "seseorang" di atas permukaan air kolam yang hidup dan bergerak oleh semilir angin itu. Pasti ada banyak doa yang dipanjatkan dan diucapkan di sana. Kata-kata cinta dan rindu. Sesekali mereka memandang ke permukaan kolam itu. Di sana seperti ada roh yang bergerak melayang-layang di permukaan samudera dan samudera itu pun hidup.
Entah mengapa, setelah ritual itu selesai, beberapa orang dari mereka itu tampak seperti sudah lega, ada katarsis, ada peleraian (terjemahan pater Frans Mido SVD untuk kata Katarsis jika dipakai di dalam konteks dramaturgi) dan bisa senyum. Sespertinya mereka sudah merasakan sebuah kehadiran. Entah dalam nama itu, entah dalam benda kenangan itu. Atau malahan, jangan-jangan karena roh yang melayang-layang di atas permukaan air itu. Roh pencipta pada awal mula. Mungkin ditangkap sebuah pesan. Mereka sudah Kembali ke dalam Ruach nan abadi itu dan kini Kembali datang menyapa penuh cinta dan damba walau tanpa raga, tanpa suara, tetapi tetap ada di sana.
Catatan Penutup
Ya, mungkin yang hanya seperti itu saja yang diminta oleh para ibu kamisan itu, yang diminta atau ditanyakan oleh Bapak Ganjar kepada Bapak Prabowo dalam debat ronde pertama para capres itu. Dan seharusnya permintaan itu layak dijawab dengan sebuah aksi nyata dan juga dalam cinta. Dan kiranya di sana bisa ada pengampunan. Dan di mana ada pengampunan, bukan mustahil akan muncul juga cinta yang menghidupkan dan mampu memberi makna kepada hidup yang hampa dan juga bahkan sudah mati sekalipun. Ah… mungkin saja… mengapa tidak…??
Saya sangat yakin, jika monumen batu sebagai tanda itu sudah ada, maka para ibu Kamisan itu tidak akan lagi berkumpul setiap hari Kamis di depan istana. Mereka akan berkumpul di batu kenangan Duka-Cinta itu. Sebab bagi mereka sudah diberikan sebuah tanda bahwa mereka, yaitu orang-orang yang tercinta ada di suatu tempat, di seberang sana, ya seberang sana dari sini. Dan kita pun yang sekarang ini di sini, akan tiba gilirannya juga akan terbang menyeberang ke ranah seberang sana dari sini. Sebelum waktu itu tiba, sisa-sisa waktu selama masih di sini, bisa dilewatkan dalam hening cinta, dan juga mudah-mudahan luka yang tersembuhkan oleh sebuah pengakuan. Itu sudah.

Komentar
Posting Komentar