IN MEMORIAM: SAHABATKU Dr. BACHTIAR FAUZI (ARSITEKTUR UNPAR)
![]() |
| Gambar: Dari Web Unpar. |
25 DESEMBER 2024
Sebuah Catatan Kilas Balik Obituari Eulogis
Oleh: Dr. EFER Fransiskus Borgias M.A. (FF-UNPAR, Bandung)
Pengantar
Tanggal 11
Desember 2024 kemarin, Bapak Dr.Bachtiar Fauzi, meninggal dunia secara
tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda seperti sakit dan dirawat terlebih dahulu di
Rumah Sakit. Ia meninggal di dalam
kesendirian di Apartemen-nya di Kawasan Ciumbuleuit, Bandung. Orang yang
terlebih dahulu mengabarkan kabar dukacita itu dalam WAG KANDIDAT LK & GB
UNPAR, ialah bapak Dr. Iur., Liona Nanang Supriyatna, Dosen Fakultas Hukum
UNPAR (mohon maaf, jika penulisan gelar tidak lengkap dan tidak benar). Kabar
Dukacita itu benar-benar mengejutkan kita semua. Hal itu tampak dari ungkapan
belasungkawa dari hampir semua sahabat anggota WAG itu. Semua anggota WAG merasa
kehilangan beliau. Dan tentu saja kaget dengan berita itu.
Begitu jugalah
halnya dengan saya. Saya kaget sekali dan tentu saja sangat sedih. Entah sejak
kapan, saya lupa persisnya, Bapak Bachtiar, beberapa tahun silam, sering
mengunggah perjalanannya ke sebuah Rumah Sakit Jantung di Jakarta dalam akun
Instagram dan facebooknya, tetapi saya lupa nama Rumah Sakit itu. Sesekali ia juga mengunggah foto
obat-obatan yang harus ia minum secara rutin. Via percakapan jalur pribadi saya
tanyakan, obat apakah itu, ia menjawab dan memberi keterangan tentang sakit
yang dideritanya dan mendapat treatment dokter, dan obat-obatan itu adalah
bagian utuh dari treatment tersebut.
Momen-momen Perkenalan Intensif
Bapak Bactiar
lebih dahulu masuk ke UNPAR dibandingkan dengan saya. Hanya saya tidak tahu
persis kapan beliau masuk. Saya sendiri mulai mengajar di Fakultas Filsafat
UNPAR, sebagai Dosen Luar Biasa sejak Februari 1993 dan mulai mengajar sebagai
dosen Kontrak sejak November 1994. Tetapi saya baru sempat mengenal Bapak
Bachtiar secara pribadi sekira tahun 1997-1998, kalau tidak salah dalam sebuah
program yang berjudul Ancangan Aplikasi yang dibawakan oleh Bapak Dr. Aadrian
Royjakers (kakak atau adik dari Pater Marie Roiyakers OSC almarhum) bersama
dengan tim-nya dari Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta. Saya sendiri saat itu utusan dari Fakultas
Filsafat. Seingat saya, itulah tahun-tahun awal saya mengenal lebih dekat dan
juga secara pribadi dengan beliau. Kesan pertama saya pada waktu itu ialah
bahwa Bapak Bachtiar orang yang murah senyum. Sebelum kata-kata salam terucap,
terlebih dahulu ia menebar senyumnya. Sesudah itu hampir tidak ada acara lagi
di mana bisa terjadi perjumpaan yang lebih intensif antara saya dengan beliau.
Walaupun tentu saja dalam beberapa kali acara Dies Natalis UNPAR, selalu bisa
bertemu dan ngobrol satu sama lain, tetapi biasanya tidak lama. Dan
seperti biasa, Bapak Bachtiar itu orang yang tidak banyak omong.
Lalu kesempatan
datang untuk sebuah perjumpaan dan interaksi yang lebih intensif pada tahun
2009. Pada waktu itu, tidak lama setelah seorang Dosen UNPAR mengundurkan diri
karena sebuah kasus dan kebetulan juga beliau saat itu sedang menjabat sebagai
Wakil Rektor, dan beliau meninggalkan cukup banyak “kerjaan” yang harus
diselesaikan. Salah satu “kerjaan” itu ialah proyek penulisan buku “Sejarah
singkat Fakultas-Fakultas yang ada di Unpar”. Agar pekerjaan yang ditinggalkan
sang pejabat tersebut tidak terbengkelai, maka Ibu Rektor saat itu membentuk
sebuah tim kerja. Kebetulan saya diminta untuk menjadi ketua Tim dengan Ibu
Putie (dari Fakultas Hukum) bertugas sebagai Wakil ketua. Tim itu beranggota
Sembilan orang (8 orang mewakili 8 fakultas ditambah satu orang mewakili Biro
Administrasi Rektorat, BIAR, tetapi bukan BIAR-in lho). Kedelapan dosen
tersebut ialah: Ibu Rachmani Puspitadesi, Ibu Farah Kristiani, Ibu Kristiana
Damayanti, Ibu Sylvia Fettry, Bapak Gandhi Pawitan, Bapak Bachtiar Fauzy, Saya
sendiri. Dan wakil dari BIAR ialah
Bapak Reno Margiantoro.
Dengan bekal surat tugas dari Ibu Rektor kami
bekerja keras selama beberapa bulan (rasanya enam bulanan, mulai dari April
hingga September 2009). Sebab bulan September 2009 buku sudah harus
terbit untuk kemudian diluncurkan secara resmi awal tahun 2010 pada saat
perayaan 55 tahun UNPAR. Tim 9 itu, di bawah koordinasi saya sebagai ketua,
mengadakan rapat rutin, pada awalnya, hampir setiap minggu untuk mengadakan
Langkah-langkah persiapan. Setelah itu rapat diadakan dengan selang waktu dua
atau tiga minggu sekali untuk mengecek perkembangan masing-masing anggota tim;
rapat dimaksudkan untuk mengetahui progress report. Nah, pada kesempatan itulah
perkenalan dan interaksi saya dengan bapak Bachtiar menjadi semakin lebih
intensif dan mendalam lagi, termasuk membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi
yang tidak perlu saya kemukakan di sini. Dan seperti biasa, setelah bekerja
keras selama kurang lebih 5 bulan, semua anggota tim bisa merampungkan tugasnya
dengan baik, tentu saja termasuk kerja dari Bapa Bachtiar sendiri. Oh ya judul
buku itu ialah 55 TAHUN UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN MENCERDASKAN GENERASI
MUDA INDONESIA. Setelah proyek itu selesai, saya sebagai ketua Bersama ibu
Putie sebagai wakil ketua menyerahkan dokumen hasil kerja itu kepada Ibu Rektor
untuk selanjutnya dibawa ke percetakan untuk dicetak jadi buku.
Sesudah
perjumpaan dan interaksi yang intensif di dalam tim kerja tersebut, praktis
tidak ada lagi kesempatan untuk berjumpa, selain disebabkan karena kesibukan
masing-masing baik dalam hal pekerjaan dan juga studi lanjut. Kami baru memiliki kesempatan untuk berinteraksi
lagi pada tahun 2018. Pada saat itu pak Bachtiar dan saya bersama dengan
beberapa teman dosen yang lain ditunjuk oleh Yayasan untuk menjadi Panitia
Pemilihan Rektor UNPAR untuk periode 2019-2023. Tim bekerja di bawah pimpinan
Ibu Miryam Wijaya. Pada kesempatan itulah terjadi lagi perjumpaan dan interaksi
yang lebih intensif antara saya dan beliau. Kami bersharing banyak hal
yang bersifat pribadi baik terkait dengan pekerjaan, maupun hal-hal lain yang
lebih bersifat pribadi. Di dalam dialog-dialog intensif pribadi itulah akhirnya
saya tahu, tentu saja setelah ia sendiri memberitahukannya dengan muka sedih
dan sendu, bahwa ia hidup seorang diri sekarang di sebuah Apartemen di Kawasan
Ciumbuleuit.
Menjadi Pembimbing Skripsi Anakku
Setelah acara
itu tidak ada lagi kesempatan khusus untuk berjumpa satu sama lain. Tetapi
sejak ada WA maka kontak dan dialog itu menjadi semakin lebih sering dilakukan
dalam Whatsapp. Tetapi di tahun
2021, terjadi lagi kontak intensif dengan beliau. Hal itu terkait dengan
anak saya yang kuliah di Arsitektur UNPAR. Anak saya ini sama sekali tidak mau
bahwa dirinya adalah anak dosen unpar walaupun akhirnya tentu saja ada banyak
kawan saya yang tahu akan hal itu. Tetapi rasanya orang-orang di Arsitektur
tidak ada yang tahu selain Pak Bachtiar. Di Tengah situasi covid-19, tiba-tiba
anak saya mengalami semacam fenomena lesu belajar dan seperti tidak bersemangat
untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Memang secara jujur anakku mengatakan bahwa
ia meminta penundaan satu tahun karena satu dan lain hal.
Sebagai orang
tua, tentu saja saya cemas akan hal itu. Tetapi juga bisa memahami karena situasi covid-19 itu. Maka saya pun
mengontak sahabat saya, Pak Bachtiar. Ia menyediakan waktu untuk berdialog di
salah satu Café starbuck di dekat Kantor Pos di dekat Jalan R.E.Martadinata.
Saya datang ke sana, dan membahas hal itu dengan beliau. Beliau bersedia
membimbing anak saya dan menjadi pembimbing skripsinya. Dan puji Tuhan,
akhirnya anak saya bisa menyelesaikan tugas skripsi itu dengan baik dan lancar.
Tetapi hingga hari ini, anak saya tidak tahu bahwa sayalah yang meminta Pak
Bachtiar untuk menjadi pembimbingnya. Dan hal itu juga saya minta kepada Pak
Bachtiar untuk dirahasiakan dari anak saya, dan dia katakan bahwa ia
melaksanakan tugas ini sebagai sebuah pemantauan dan pendampingan biasa dari
seorang dosen.
Setelah selesai
dengan hal itu, kami juga membahas beberapa hal lain yang bersifat pribadi dan
juga pekerjaan. Juga termasuk kesibukan dia mengurus dan menaruh perhatian pada
sakitnya. Tentu saja, setelah anak saya diwisuda, saya tidak lupa berterima
kasih kepada Pak Bachtiar. Itulah sebabnya Ketika tanggal 11 Desember kemarin,
saya kabarkan hal itu kepada anak saya di Denpasar, ia sangat terkejut dan
sedih sekali. Ia meminta agar kalau saya (bapanya) sempat melayat, mohon
dibisikkan ucapan terima kasih dari dia (anak saya). Tetapi sayangnya
kesempatan itu tidak ada, sebab acara penguburan jenazah Bapak Bachtiar
berlangsung cukup cepat. Akhirnya
semuanya hanya dibawa di dalam doa. Sebab doa itu adalah “tali penghubung” yang
bersifat kasat mata yang bisa mengikat-satukan semua makhluk yang percaya akan
sang Khalik.
Tetiba Ditimpa Teror Ruang Kosong
Mengapa baru hari ini, tanggal 25 Desember, saya
menulis Obituari ini? Hal ini terkait erat dengan satu kenyataan berikut
ini. Yaitu bahwa adalah bapak Bachtiar merupakan salah satu dari sahabat Muslim
saya yang rutin setiap tahun paling dini mengucapkan selamat Natal kepada saya
dan keluarga. Lalu hari ini, tiba-tiba saja saya merasakan semacam kekosongan
itu, tetiba merasakan semacam pengalaman “terror ruang kosong”, (istilah dari
seorang pengamat seni, saya lupa Namanya, yang mengomentari seni Lukis Bali
yang dikatakan tidak ada ruang kosong, karena semua diisi dengan sangat rinci,
dan hal itu dikaitkan dengan semacam rasa hybris, ketakutan akan ada dan
hadirnya ruang kosong itu) yang disebabkan oleh semacam ketidak-hadiran dari
seseorang yang rutin selama ini hadir melalui pesan WA untuk mengucapkan
selamat Natal untuk saya.
Di Tengah
derasnya fatwa pelarangan ucapan selamat natal kepada orang non-muslim oleh
muslim, kerela-sediaan para sahabat saya untuk melambungkan ucapan selamat
Natal itu merupakan sesuatu yang lux, yang Istimewa bagi saya. Di pelbagai
platform medsos kita lihat cukup banyak komunitas lintas iman yang
memperjuangkan hal itu. Mungkin perjuangan komunitas lintas iman itu terlalu
jauh bagi saya, tetapi kehadiran Pak Bachtiar dengan salamnya menjadi sebuah
contoh dan bukti nyata dialog antar iman yang indah bagi saya.
Mengapa itu penting? Karena dialog dan pergaulan
lintas iman adalah sisi lain dari kewajiban setiap manusia yang beragama. Sebab
menurut teolog Peter C.Phan (teolog Amerika berdarah Vietnam) seorang manusia
beragama harus bisa menghayati dua hal: yaitu pertama, ia harus bisa “Being
Religiuos” dan kedua, ia juga harus menjalankan kewajiban “being religious” itu
“Interreligiously”, alias secara antar agama. Itulah judul buku Phan
tadi: Being Religious Interreligiously. Being Religious adalah kewajiban
teologis dari cara hidup beragama itu, di mana manusia beragama itu menyadari
dan menghayati dan mengaktualkan relasi dan kedekatannya dengan sang Theos
(Deus, Deva, Dewa, Tuhan, Allah, Tuhan Allah). Sedangkan “Interreligiously”
adalah kewajiban etis dari cara hidup beragama itu.
Mengapa harus
ada kewajiban etis? Itu karena kita hidup di Tengah Masyarakat yang plural.
Keyakinan religius kita yang bersifat teologis-vertikal, harus tampak
perwujudannya dalam relasi horizontal antar manusia. Saya tidak mungkin bisa
mengaku percaya akan Tuhan Allah, jika saya membenci sesama apalagi atas nama
Tuhan Allah itu. Itu sebuah contradiction in terminis. Dan bagi saya, pak
Bachtiar adalah sosok orang yang menghayati dua sayap hidup beragama itu dengan
sangat baik. Sebagai muslim ia saleh dan taat (being religious), tetapi sebagai
muslim yang hidup di Tengah Masyarakat plural ia tahu dan juga memiliki
kepekaan untuk menjalankan dimensi “interreligiously” tadi dengan penuh
tanggung-jawab tanpa merontokkan Aqidah agamanya.
John S.Dunne: Passing-Over dan Coming Back
Saya mau menutup obituary ini dengan mengutip lagi
seorang teolog tentang dialog antar agama. Yaitu John S.Dunne. Pada
tahun 1970an, teolog ini menerbitkan sebuah buku yang penting dan menarik
dengan judul The Way of All the Earth. Dalam buku ini ia mencoba
mendeskripsikan tentang relasi dan dialog antar agama dengan memperkenalkan dua
istilah yang tampaknya bersifat teknis, tetapi sebenarnya memperlihatkan sebuah
ziarah Rohani, perjalanan spiritualitas. Kedua istilah itu ialah Passing Over
dan Coming Back.
Kata Dunne,
dalam hidup antar agama di dunia ini, masing-masing pemeluk agama pasti harus
dan pernah melakukan tindak passing over itu, yaitu “keluar” dari ruang
“agamanya” sendiri dan masuk ke dalam “ruang agama lain”, tetapi bukan untuk
kemudian menjadi murtad karenanya, melainkan untuk Kembali lagi, coming back,
sebagai manusia yang baru, manusia yang diperbarui. Ya diperbarui karena ia,
dengan melakukan “passing over” itu sebenarnya “sudah dibaptis” di dalam
nilai-nilai spiritualitas agama tadi, dan dengan itu ia mengalami perubahan. Ia mengalami metanoia, bukan conversion,
melainkan perubahan cara pikir (meta-nous, akar kata dari metanoia itu). Yang
terjadi, bukan lagi conversion (pertobatan atau bahkan pembelotan) melainkan
conversation, percakapan dan dialog pendalaman lebih lanjut antar iman, demi
pendalaman dan pengayaan secara baru dan lebih kaya dan lebih dalam.
Sahabat saya, Bapak Bachtiar di mata saya juga
adalah orang yang sudah melakukan perjalanan passing-over dan coming back itu
terus menerus di dalam dan selama hidupnya. Mungkin ada pembaca yang bertanya,
mengapa saya berani menyebut almarhum, sahabat saya? Semoga saya sudah
menjelaskan hal itu secara eksplisit dan implisit dalam seluruh tulisan di atas
tadi sehingga saya tidak merasa perlu untuk mengulang lagi semuanya di sini
walaupun bisa dirumuskan dengan kata-kata lain, in other words (iow).
Akhirnya, saya
hanya mau mengatakan kepada Bapak Bachtiar bahwa tulisan ini mengalir dan
memancar keluar dari sebuah kekosongan yang tiba-tiba kurasakan pagi hari ini,
karena tidak ada lagi ucapan selamat natal yang datang dari WA-mu. Dari dalam kekosongan itulah saya menulis
obituari ini. Saya hanya bisa mengenangmu dengan tulisan ini. Semoga berkenan
ya sahabatku. Sekian dan terima kasih.
Bandung, 25 Desember 2024.
Dr. Fransiskus Borgias, M.A.
FF-UNPAR, Bandung, Jawa Barat,
Indonesia.

Komentar
Posting Komentar